Saat ini perusahaan kami mempunyai suplai cangkang sawit sebanyak 5.000 ton.
Dorong Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit, Menko Airlangga: Lebih dari Sekadar Keberlanjutan, Ini tentang Memberdayakan Masyarakat Kita
Jakarta. Sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia berada pada titik penting karena saat ini sudah dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya sekaligus mendorong keberlanjutan. Budidaya kelapa sawit sendiri telah memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar, namun juga penuh dengan tantangan lingkungan. Setiap tahun, sejumlah besar biomassa yang dihasilkan dari budidaya kelapa sawit dibuang. Ini termasuk tandan buah kosong, batang pohon, limbah cair, dan cangkang inti sawit. Daripada menganggap produk sampingan tersebut sebagai limbah, hal itu harus dianggap sebagai sumber daya berharga semisal untuk produksi biofuel, bioplastik, dan pupuk organik. “Valorisasi bahan baku dari limbah kelapa sawit dan pertanian di Indonesia merupakan sebuah game changer karena akan menjadi salah satu hal yang mendorong penerapan ekonomi sirkular yang menyeimbangkan perlindungan lingkungan/tanggung jawab ekologis dengan pertumbuhan ekonomi. Kita dapat memastikannya dengan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan,” ucap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ketika membuka secara virtual Konferensi Internasional 2024 berjudul “Valorising Oil Palm and Agri Waste Feedstocks” yang diinisiasi Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI), di Jakarta, Rabu (2/10). Di antara banyak produk sampingan industri kelapa sawit, salah satu sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan yakni cangkang inti sawit. Dengan nilai kalori yang sebanding dengan batu bara peringkat rendah, cangkang inti sawit berpotensi untuk mentransformasi lanskap energi di Indonesia. Produksi cangkang inti sawit dapat melebihi 13,4 juta ton, dan meningkatnya penggunaan cangkang sebagai bahan bakar boiler di pabrik kelapa sawit menandai pergeseran signifikan menuju solusi energi yang lebih ramah lingkungan. Kualitas cangkang inti sawit Indonesia, khususnya yang bersumber dari Pulau Sumatera terkenal unggul, sehingga menempatkan Indonesia sebagai pemimpin di pasar negara berkembang. “Pemerintah Indonesia secara aktif menjajaki potensi co-firing palm kernel shell dengan batu bara peringkat rendah di pembangkit listrik dalam negeri. Kami yakin upaya ini akan menghasilkan solusi inovatif yang bermanfaat bagi perekonomian dan lingkungan,” jelas Menko Airlangga. Selain itu, Indonesia memproduksi 3,9 juta ton minyak goreng bekas (atau UCO) pada 2023 dan UCO digunakan sebagai bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Di samping itu, Indonesia sedang mempertimbangkan untuk mengusulkan pengupas inti sawit sebagai bahan baku baru untuk dimasukkan dalam daftar positif Skema Penyeimbangan dan Pengurangan Karbon untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan untuk penerbangan internasional. Pengupas inti sawit juga dapat digunakan sebagai bahan baku produksi pakan ternak, dan juga berpotensi untuk digunakan sebagai produksi bioetanol. “Menghargai limbah kelapa sawit dan pertanian dapat menghasilkan peluang ekonomi, khususnya di daerah pedesaan. Dengan berinvestasi pada praktik-praktik ini, kita dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani kecil, serta memperkuat mata pencaharian masyarakat setempat. Ini lebih dari sekadar keberlanjutan, sebab ini tentang memberdayakan masyarakat kita,” ungkap Menko Airlangga. Menko Airlangga juga menekankan bahwa untuk mencapai semua tujuan tersebut, Indonesia memerlukan kebijakan kuat dan kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan. Kerangka kerja yang mendukung akan merangsang investasi dalam penelitian dan inovasi, sehingga membuka jalan bagi industri minyak sawit yang lebih berkelanjutan. Sebagai informasi, kegiatan ini mengundang perwakilan dari Kementerian/Lembaga, investor, trader, asosiasi, perusahaan, praktisi dan akademisi guna membahas peluang dan potensi minyak sawit Indonesia dan limbahnya agar dapat memberikan nilai tambah pada industri sawit Indonesia. Acara ini dihadiri lebih dari 150 peserta yang berasal dari dalam dan luar negeri, khususnya mereka yang bergerak pada bidang industri kelapa sawit serta praktik pertanian berkelanjutan. Sumber : Siaran Pers, Kemenko Perekonomian Link Sumber
Presiden Jokowi Perintahkan Menteri Pertanian, Genjot Produktivitas Kopi 8 Kali Lipat
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau panen kopi di Lampung Barat. Ia menginginkan kan produktivitas kopi asal RI terus naik. Jokowi mengatakan total kebun kopi di Indonesia mencapai luasan lahan mencapai 1,2 juta hektare baik kopi robusta maupun arabica. Di Lampung Barat menjadi kawasan yang memiliki luasan kebun kopi terbesar di di seluruh Indonesia. “Di Lampung Barat ini terbesar, ada 60 ribu hektare, tapi yang banyak memang hampir 90 persen di sini adalah robusta, arabica nya kira-kira 10an persen,” kata Jokowi di Lampung, Jumat (12/7/2024). Jokowi mengatakan harga kopi terus mengalami kenaikan. Begitu juga dengan nilai ekspor yang terus naik. Sehingga ia meminta Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk terus meningkatkan produksinya. “Saya sampaikan ke Menteri Pertanian agar memberi perhatian kepada kopi, yang paling penting adalah produktivitas per hektarenya harus naik. Yang banyak masih 1 hektare 1 ton, 2 ton, harusnya bisa masuk ke 8 ton atau 9 ton, kan negara lain bisa di angka-angka itu,” kata Jokowi. “Jadi tugas kita bersama bagaimana membuat produktivitas per hektarenya menjadi naik drastis, dan itu bisa terjadi kalau ada peralatan yang baik, ada pupuk yang baik, ada jarak tanam yang mungkin lebih rapat sehingga produktivitas per hektarenya bisa menjadi naik,” tambahnya. Selain itu ia juga berpesan agar komoditas kopi harus naik tingkat ke level industri atau hilirisasi, dan tidak melakukan ekspor dalam bentuk mentah. “Saya melihat tadi di depan sudah banyak yang packagingya bagus, siap untuk diekspor, ya seperti itu. Harusnya semuanya, tidak dalam bentuk mentahan-mentahan yang sudah berpuluh tahun beratus tahun kita lakukan ekspor dalam bentuk mentahan, harus dihilirisasi. Tidak hanya kopi, cokelat, sawit, semuanya, dan komoditas pertanian perkebunan lainnya,” kata Jokowi. Sumber : Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia Link Berita
Eksport 24 Miliar, Kopi Asal Sumut Eksport ke AS
Jakarta- Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan melakukan pelepasan ekspor kopi green bean asal Deli Serdang, Sumatera Utara sebanyak 10 kontainer senilai US$ 1,48 juta atau setara Rp 24,1 miliar (kurs Rp 16.322). Kopi produksi PT Ujang Jaya International itu diekspor ke Amerika Serikat (AS). “Saya bersyukur pagi ini kita bersama-sama melepas ekspor produk kopi oleh PT Ujang Jaya Internasional sebanyak 10 kontainer ke AS dengan nilai US$ 1,48 juta. Ini luar biasa. Kami terus- menerus berupaya menggalakkan ekspor karena ini momentum surplus neraca dagang 49 bulan berturut-turut,” ujar kata pria yang akrab disapa Zulhas itu, dalam keterangannya, Senin (1/7/2024). Zulhas mengungkapkan, Kemendag bekerja keras untuk membuka akses pasar produk Indonesia dengan mempercepat penyelesaian perjanjian dagang dengan negara mitra. Salah satunya, perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). “Kita sedang bekerja keras untuk menyelesaikan perjanjian CEPA dengan Uni Eropa. Kalau perjanjian selesai, mudah-mudahan lada, kopi, terutama CPO tidak akan ada masalah di Uni Eropa. Perjanjian tinggal sedikit lagi selesai, mudah-mudahan sebelum Oktober selesai,” lanjut Zulhas. Zulhas mengapresiasi PT Ujang Jaya International yang terus mendorong peningkatan ekspor produk kopi Indonesia ke pasar global, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh pihak yang mendukung peningkatan ekspor ini. “Penghargaan yang tinggi kepada PT Ujang Jaya Internasional yang bergerak di bidang ekspor kopi, bahkan mengurus para petani dengan membuat koperasi. Kita doakan dan dukung, apa yang diperlukan dari pemerintah akah difasilitasi karena kita akan menghadapi persaingan dengan negara lain,” ujar dia. “Jadi, kata kuncinya untuk menjadi negara maju harus kerja sama. Dengan bekerja sama, ekspor kita bisa naik dan perbankan membantu pengembangan kredit memajukan perekonomian sehingga pedagang dan petani berkembang,” tambah. Zulhas menambahkan, dalam lima tahun terakhir (2019-2023), tren ekspor kopi Indonesia menunjukkan peningkatan sebesar 4,46%. Di sisi lain, AS menempati urutan. pertama sebagai negara tujuan ekspor produk kopi asal Indonesia dengan nilai mencapai US$ 215,96 juta dengan pangsa ekspor 23,24%. “Pesaing utama ekspor kopi ke AS dari Amerika Latin, salah satunya Kolombia. Kolombia punya merek sendiri yang dikelola koperasi dan didukung pemerintahnya. Untuk itu, kualitas kopi Indonesia harus ditingkatkan, apalagi sudah tertanam kesadaran di masyarakat akan konsumsi kopi organik. Harus betul-betul dijaga, termasuk pengemasan dan pengeringan. Karena itu, saya dukung penuh koperasi dan resi gudang karena memang kalau mau sukses kata kuncinya kerja sama,” jelas Zulhas. Dalam sambutannya, Zulhas mengajak pelaku usaha untuk berpartisipasi pada Trade Expo Indonesia yang akan dilaksanakan pada 9–12 Oktober 2024, Pameran ini akan dihadiri buyer dari seluruh Indonesia sehingga menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor, khususnya produk kopi. “Saya mengajak PT Ujang Jaya Internasional untuk menghadiri Trade Expo Indonesia 2024 pada Oktober karena dihadiri buyer dari hampir seluruh negara. Ini menjadi peluang untuk memasarkan produk kopi ke berbagai negara,” imbuh Zulhas. Turut hadir dalam acara ini Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatra Utara Mulyadi Simatupang. Turut mendampingi Mendag Zulkifli Hasan, yakni Plt. Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto dan Pit. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Mardyana Listyowati. PT Ujang Jaya International merupakan produsen kopi yang telah berdiri sejak 1998 sebagai penyuplai kopi di Medan, Sumatra Utara. Sejak 2004, perusahaan ini mulai mengekspor kopi ke beberapa negara di dunia dengan jenis arabika dan robusta. Pada Januari-April 2024, ekspor produk kopi Indonesia mencapai US$ 283,3 juta. Angka ini naik 201% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu senilai US$ 236,08 juta. Sementara pada 2023, ekspor kopi Indonesia ke dunia mencatatkan nilai sebesar US$ 929,13 juta Sumber : Aulia Damayanti, DetikFinance Link Berita
Report From Field : Potensi Kopi Di Kabupaten Kepahiang
Kepahiang, Sebagai Salah Satu Penghasil Kopi Terbesar Di Bengkulu
Kepahiang, Sebagai Salah Satu Daerah Penghasil Kopi Terbesar Di Bengkulu Provinsi Bengkulu adalah salah satu wilayah penghasil kopi di Indonesia, dan salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Sumatera selain Sumatera Selatan dan Lampung. Maka hal tersebut menjadikan Bengkulu sebagai daerah yang berpotensi besar dalam pengelolaan sumber daya lokal, terutama komoditas kopi yang merupakan komoditas unggulan. Secara keseluruhan komoditas kopi robusta di Provinsi Bengkulu diusahakan di dataran tinggi, yang meliputi Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong. Total luas areal tanam kopi robusta di Provinsi Bengkulu menurut data BPS Provinsi Bengkulu pada tahun 2018 sebesar 82242 ha dan produksi sebesar 55045 ton/th. Sedangkan di daerah Kabupaten Kepahiang, luas areal tanam kopi robusta pada tahun 2018 sebesar 24678 ha dan produksi sebesar 19199 ton/th, dan Kabupaten Rejang Lebong dengan luas areal tanam pada tahun 2018 sebesar 23310 ha dan produksi sebesar 14939 ton/th. Salah satu kabupaten penghasil kopi terbesar di provinsi Bengkulu adalah Kabupaten Kepahiang. Kepahiang terletak di dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan, dengan luas wilayah yaitu sekitar 66.500 hektar. Secara geografis, Kabupaten Kepahiang yang terletak di dataran tinggi yang mempunyai iklim yang sejuk dengan suhu udara rata-rata tidak lebih dari 25ºC dan curah hujan yang tinggi. Dengan adanya dukungan kondisi dan luas wilayah di Kabupaten Kepahiang terhadap sektor pertanian terutama untuk komoditas perkebunan. Kopi adalah salah satu komoditas unggulan daerah dari Kabupaten Kepahiang dan rata-rata perkebunan kopi di Kabupaten Kepahiang sebagian besar perkebunan rakyat. Beberapa kecamatan yang merupakan penyumbang produksi terbesar kopi di Kabupaten Kepahiang antara Kecamatan Muara Kemumu, Bermani Ilir, Ujan Mas dan Tebat Karai dengan jumlah produksi total pada tahun 2018 sebesar 6236,8 ton, 4099,2 ton, 2388,6 ton, dan 1679,6 ton. Dengan demikian menjadikan Kecamatan Muara Kemumu menempati peringkat pertama dalam produksi kopi di Kabupaten Kepahiang. Banyak petani di Kepahiang membudidayakan kopi jenis robusta. Ada tiga jenis kopi yang di budidayakan di Kabupaten Kepahiang, antara lain robusta, arabika dan liberika. Dengan budidaya tradisional maksimal hasil kopi yang dipaenen berkisar 1- 1.3 ton per hektar, namun jika menggunakan sistem stek, hasil panen bisa mencapai 3 ton per hektar. Mayoritas keluarga di Kabupaten Kepahiang menggantungkan ekonominya dengan budidaya kopi, dan kopi telah menjadi nadi ekonomi warga Kepahiang.
Mengintip Peluang Bisnis Kopi Di Indonesia, Masih Bikin Cuan?
Mengintip Peluang Bisnis Kopi Di Indonesia, Masih Bikin Cuan? Indonesia disebut memiliki potensi yang sangat besar sebagai negara produsen dan konsumen kopi. Organisasi Kopi Dunia (International Coffee Organization / ICO) menyebutkan Indonesia merupakan produsen kopi terbesar kedua di Asia & Oseania setelah Vietnam. Produksinya pun terus meningkat. Tercatat pada tahun kopi 2022/23, produksinya meningkat 2,4% menjadi 12 juta kantong. Dilihat dari tingkat konsumsi kopi di Indonesia dalam periode sepuluh tahun antara Oktober 2008 hingga September 2019 pun terjadi pertumbuhan yang signifikan hingga 44%. Tidak heran bisnis kafe dan kedai kopi semakin marak yang kebanyakan digerakkan dan menyasar anak-anak muda. Asosiasi Pengusaha Kopi dan Cokelat Indonesia (APKCI) memperkirakan, pada tahun 2023, jumlah kedai kopi di Indonesia akan mencapai 10 ribu toko dengan pendapatan dari bisnis kedai kopi diperkirakan akan mencapai Rp 80 triliun. Peningkatan bisnis kedai kopi tentunya memacu pertumbuhan kebutuhan akan mesin sangrai kopi sebagai aspek krusial. Proses penyangraian kopi sangat berpengaruh pada aroma dan konsistensi rasa yang dihasilkan dari biji kopi. Karena itu tak heran, para pebisnis kopi dan kedai kopi sangat memperhatikan mutu dan akurasi mesin sangria kopi dalam menghasilkan aroma dan rasa yang konsisten. Belum lagi, kapasitas listrik mesin yang terbilang besar dan berdampak pada biaya energi yang tidak sedikit dalam komponen biaya operasional. Melihat perkembangan kebutuhan para pebisnis kopi dan kedai kopi ini, maka industri mesin sangrai kopi pun kini turut berkembang mengikuti perubahan jaman. Berto Coffee Roaster, produsen mesin sangrai kopi yang berfokus pada bisnis kopi skala kecil, menengah hingga besar, merupakan salah satu contoh produsen yang telah menyematkan kecanggihan teknologi digital ke dalam fitur mesinnya yang membuat penyangraian kopi menjadi lebih mudah dengan tingkat presisi yang tinggi, lebih efisien, dan ramah lingkungan. “Tren menyangrai kopi terus bertransformasi. Sejak 2018 lalu, kami mengembangkan inovasi mesin sangria kopi dengan memanfaatkan teknologi digital dan otomasi untuk dapat menjawab tantangan industri kopi,” Business Developer Berto Coffee Roaster Marcel Patilaya dalam siaran pers, ditulis Selasa (26/12/2023). Dia menjelaskan, ada tiga (3) trend industri kopi masa depan. Pertama, permintaan akan konsistensi dan ketepatan profil pemanggangan akan semakin meningkat. Mesin sangria kopi dituntut memiliki performa yang prima setiap saat agar dapat menghasilkan ketepatan dan konsistensi profil kopi sesuai yang diharapkan. Kedua, kebutuhan untuk mendapatkan visibilitas operasional untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat. Ketiga, tuntutan keberlanjutan dan transparansi mulai dari pertumbuhan biji kopi hingga dampak pemanggangannya terhadap jejak karbon yang dihasilkan. Untuk menjawab tuntutan masa depan ini, Berto memadukan harmonis antara teknik yang telah lama digunakan dengan inovasi modern dengan pemanfaatan teknologi otomasi dan berbasis software. Berto menggunakan beragam solusi Schneider Electric mulai dari panel kontrol, solusi EcoStruxure Machine, dan Augmented Operator Advisor. Dengan penambahan berbagai fitur teknologi, Berto dapat menawarkan kepada customer-nya keunggulan kompetitif untuk bisnisnya mulai dari kontrol penuh terhadap mesin sangrai kopinya, fleksibilitas dalam mengatur kebutuhan penyangraiannya, dan dengan kemampuan meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon. Memungkinkan customer memaksimalkan potensi bisnis dengan tetap menjalankan tanggung jawabnya terhadap lingkungan dan masyarakat. Mengurangi waktu perawatan hingga 50%, dan menghemat biaya perawatan mesin hingga 20%. Mesin Type R and Essential Air roasters keluaran Berto Coffee Roaster, contohnya, memiliki sistem pemulihan panas dan sistem rendah emisi yang mengedepankan proses pemanggangan tanpa mengeluarkan asap sehingga memastikan kualitas dan mengedepankan tanggung jawab terhadap lingkungan. Mesin ini dapat meminimalkan cacat panggang. “Berto Coffee Roaster merupakan pembuktian bahwa pemanfaatan teknologi digital dan otomasi dapat membantu industri kecil menengah (IKM) meningkatkan nilai jual produknya dan mengikuti perkembangan kebutuhan konsumen akan aspek keberlanjutan,” ucap Roberto Rossi, Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste. “Kepemimpian dan inisiatif Berto menunjukkan bagaimana setiap pelaku bisnis dapat menjadi Impact Makers untuk customer, lingkungan dan masyarakat. Kami, Schneider Electric siap menjadi mitra digital bagi seluruh pelaku bisnis yang juga ingin melakukan langkah perubahan dan menjadi bagian dari komunitas Green Heroes for Life.” Adapun transformasi digital diyakini dapat mendukung pelaku bisnis mengoptimalisasi proses bisnis, mengurangi biaya perawatan bahkan hingga 75%, waktu dan biaya engineering hingga 80 persen, dan mengurangi jejak karbon hingga 50%. Sumber : Sylke Febrina Laucereno/finance.detik.com Link Source
Kopi Indonesia Pegunungan Sangat Dinikmati Luar Negeri
Kopi Indonesia Pegunungan Sangat Dinikmati Luar Negeri Founder Dua Coffee, Rinaldi Nurpratama mengatakan kopi Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan kopi dari negara lain. Kopi Indonesia yang tumbuh di daerah pegunungan sangat diminati pecinta kopi di luar negeri. “Kita pegunungannya tak jauh dari laut, sehingga kita memiliki kopi yang karakteristiknya memang dicari buyer di luar negeri,” kata Rinaldi dalam acara konferensi pers ‘Pasar Kopi Indonesia’ di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Rinaldi mengatakan salah satu retail kopi terbesar di dunia juga memakai kopi Indonesia, karena karakteristik cokelat dan lapisan krimnya yang sangat spesifik. Kini, dia mengatakan kopi Indonesia sudah ada di level cukup tinggi, apalagi setelah ada kompetisi paling bergengsi di dunia, Cup Of Excellence. “Nama kopi Indonesia ini sedang harum di kancah internasional, jadi dicari banyak orang,” ujar Rinaldi. Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara, sekaligus Ketua PMO Kopi Nusantara, Dwi Sutoro mengatakan ada oportunitas dari segi lini di dunia. Dari segi pasar di dunia, kopi Indonesia namanya sudah dikenal luas. Namun, produktivitas dan kualitas tak konsisten. “Sebenarnya peminat kita banyak, tetapi karena kualitas tak konsisten tentunya buyer di luar lebih baik bekerja sama dari negara lain,” kata Dwi. Karena itu, dia mengatakan PMO Kopi Nusantara berupaya masuk ke celah itu untuk membangun ekosistem. Pasar kopi Indonesia itu lebih tinggi dari persediaan. “Yang perlu kita garap itu, bagaimana membangun persediaan punya kualitas yang lebih konsisten, sehingga buyer luar negeri kembali bergairah berkontrak dengan kopi Indonesia,” ujar Dwi. CEO Roemah Indonesia BV, Suryo Tutuko mengatakan perkembangan kopi Indonesia sangat menarik, meskipun lambat tapi pasti. Di Belanda, dia mengatakan banyak persediaan kopi berasal dari Amerika Latin. Namun, dia optimistis dengan kemampuan produksi kopi Indonesia. “Makin ke sini, saya lihat dengan kemampuan produksi kopi Indonesia, makin enak. Jenis kopinya yang menarik banyak, yg sering didengar Luwak, java coffee juga banyak,” kata Suryo. Sumber : Umi Nur Fadhilah, Nora Azizah ameera,replubika,co,id Link Source
Mengapa Jumlah Kopi Robusta Lebih Banyak Dibandingkan Kopi Arabica
Mengapa Jumlah Kopi Robusta Lebih Banyak Dibandingkan Kopi Arabica Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang banyak diminati di dalam dan luar negeri. Ada dua jenis kopi Indonesia yang paling umum dikonsumsi, yaitu robusta dan arabika. Menurut Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Daryanto Witarsa, kopi robusta lebih banyak diproduksi dibandingkan dengan kopi arabika. “70-80 persen adalah robusta dan bukan specialty coffee. Itu adalah kopi komersil yang dipakai untuk kopi instan,” kata Daryanto dalam acara Press Conference SCAI COE di Journey To The South, Kemang pada Rabu (22/12/2021). Daryanto menuturkan, kopi robusta dan arabika memiliki pasar dan harga yang berbeda. Robusta banyak digunakan untuk membuat kopi instan, sementara arabika sering ditemui sebagai speciality coffee di kedai kopi. Cerita di Balik Minimnya Ekspor Kopi Indonesia ke Belanda Artikel Kompas.id “Kalau arabika ikut New York price, robusta ikut London price. Jadi harganya sangat berbeda,” tutur Daryanto. Selain penggunaan dan harga yang berbeda, ketimpangan jumlah produksi dua jenis kopi ini juga dipengaruhi oleh tempat atau lokasi tanamnya. Daryanto mengatakan, membutuhkan dataran tinggi untuk bisa menanam kopi arabika berkualitas baik. “Dataran tinggi itu pasti lebih banyak kopi-kopi arabika, dataran rendah itu banyak robusta,” ucap Daryanto. Baca juga: Kopi Susu Lebih Enak Pakai Arabika atau Robusta? 4 Beda Kopi Robusta dengan Arabika, Daerah Tumbuh sampai Pengolahan Sejarah Masuknya Kopi di Indonesia, Belanda Bawa Benih Arabika ke Jawa Menurutnya, bibit kopi arabika dapat ditanam di ketinggian 1200-1300 meter di atas permukaan laut, sementara robusta bisa diproduksi di tanah dengan ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut. “Jadi benar-benar harus mencari gunung tinggi sekali, apalagi sekarang dengan produktivitas rendah di Indonesia kan pertanian bukan kopi doang,” kata Daryanto. Pegunungan tinggi banyak ditemukan di daerah Jawa, sementara menurut Daryanto, daerah Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Lampung, dan Palembang tidak mempunyai banyak gunung tinggi sehingga produksi kopi yang dihasilkan kebanyakan berupa robusta. Penanaman massal hingga kompetisi Daryanto mengatakan, dirinya tengah berdisksusi dengan pihak kementerian terkait untuk mengatasi perbedaan jumlah kopi ini. “Memang dari pihak Kementan, mereka ada program penanaman10 juta bibit di seluruh Indonesia tetapi ini kan tergantung dari lahan dan lainnya,” ujarnya. Sementara itu, ia bersama para rekannya kini sedang menginisiasi kompetisi kopi internasional pertama di Asia, Cup of Excellence (COE) untuk mengusahakan peningkatan jumlah produksi dan ekspor kopi arabika. Menurutnya, kompetisi tingkat internasional tersebut merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan jumlah dan kualitas kopi arabika. “Kalau kualitas kita naikkan, otomatis yang komersial pasti naik dan bisa membuat ekosistem bagus,” jelasnya. Sumber : Krisda Tiofani,Yuharrani Aisyah. Kompas.com Link Source
RI Ekspor 3.000 Ton Kopi Robusta Ke Mesir
RI Ekspor 3.000 Ton Kopi Robusta Ke Mesir Produk kopi Indonesia ternyata laku keras di kancah mancanegara. Indonesia melepas ekspor kopi perdana ke Mesir tahun 2022 senilai Rp3,5 miliar. Pelepasan ekspor kopi jenis robusta ini dilakukan pada Minggu (30/1) di Pergudangan Kopi di Lampung, Sumatra Selatan. Ekspor kopi tersebut dilakukan dalam dua pengiriman yaitu sebanyak enam kontainer dan berikutnya pada minggu depan sebanyak enam kontainer. Ekspor kopi robusta ini menghasilkan total kontrak mencapai 3000 ton selama tahun 2022. “Pelepasan ekspor kopi ini merupakan bentuk sinergi berbagai pihak antara lain pemerintah pusat dan daerah, BUMN, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan terkait. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja ekspor kopi Indonesia ke Mesir sekaligus sebagai upaya dalam meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi petani kopi Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi. ndonesia perlu memanfaatkan keunggulan dan potensi produk kopi sebagai daya dorong dalam meningkatkan kinerja ekspor kopi Indonesia ke negara tujuan ekspor. Khususnya karena Indonesia sebagai negara yang memiliki 35 jenis kopi Indikasi Geografis (IG) dan terdaftar di Direktorat Jenderal Hak dan Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu, saat ini kopi Arabika Gayo juga telah terdaftar di Eropa dan merupakan satu-satunya produk IG Indonesia yang dilindungi di Eropa.Berdasarkan data BPS, kinerja ekspor kopi Indonesia pada periode Januari-November 2021 tercatat mencapai US$757,41 juta atau meningkat 2,73 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 yang sebesar US$737,27 juta.”Untuk meningkatkan daya saing produk ekspor kopi Indonesia, Kemendag telah melakukan berbagai upaya promosi antara lain peningkatan kemampuan dan keterampilan (capacity building) bagi pelaku usaha ekspor, pengembangan produk, mempromosikan merek dagang (branding), pelatihan ekspor, informasi pasar ekspor, penjajakan bisnis (business matching), dan berbagai program lainnya yang mendukung pelaku usaha ekspor,” sebut Direktur Pengembangan Produk Ekspor Miftah Farid. Adapun negara tujuan ekspor utama produk kopi Indonesia antara lain Amerika Serikat (22,94 persen), Mesir (10,46 persen), Jepang (7,61 persen), Spanyol (6,45 persen), dan Malaysia (6,31 persen). “Meski di masa pandemi, pertumbuhan nilai ekspor kopi Indonesia terus mengalami peningkatan,” imbuh Miftah. Sumber : Ferry Sandi, CNBC Indonesia Link Source