Mengapa Jumlah Kopi Robusta Lebih Banyak Dibandingkan Kopi Arabica
Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang banyak diminati di dalam dan luar negeri. Ada dua jenis kopi Indonesia yang paling umum dikonsumsi, yaitu robusta dan arabika. Menurut Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Daryanto Witarsa, kopi robusta lebih banyak diproduksi dibandingkan dengan kopi arabika. “70-80 persen adalah robusta dan bukan specialty coffee. Itu adalah kopi komersil yang dipakai untuk kopi instan,” kata Daryanto dalam acara Press Conference SCAI COE di Journey To The South, Kemang pada Rabu (22/12/2021). Daryanto menuturkan, kopi robusta dan arabika memiliki pasar dan harga yang berbeda. Robusta banyak digunakan untuk membuat kopi instan, sementara arabika sering ditemui sebagai speciality coffee di kedai kopi.
Cerita di Balik Minimnya Ekspor Kopi Indonesia ke Belanda Artikel Kompas.id “Kalau arabika ikut New York price, robusta ikut London price. Jadi harganya sangat berbeda,” tutur Daryanto. Selain penggunaan dan harga yang berbeda, ketimpangan jumlah produksi dua jenis kopi ini juga dipengaruhi oleh tempat atau lokasi tanamnya. Daryanto mengatakan, membutuhkan dataran tinggi untuk bisa menanam kopi arabika berkualitas baik. “Dataran tinggi itu pasti lebih banyak kopi-kopi arabika, dataran rendah itu banyak robusta,” ucap Daryanto. Baca juga: Kopi Susu Lebih Enak Pakai Arabika atau Robusta? 4 Beda Kopi Robusta dengan Arabika, Daerah Tumbuh sampai Pengolahan Sejarah Masuknya Kopi di Indonesia, Belanda Bawa Benih Arabika ke Jawa Menurutnya, bibit kopi arabika dapat ditanam di ketinggian 1200-1300 meter di atas permukaan laut, sementara robusta bisa diproduksi di tanah dengan ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut. “Jadi benar-benar harus mencari gunung tinggi sekali, apalagi sekarang dengan produktivitas rendah di Indonesia kan pertanian bukan kopi doang,” kata Daryanto. Pegunungan tinggi banyak ditemukan di daerah Jawa, sementara menurut Daryanto, daerah Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Lampung, dan Palembang tidak mempunyai banyak gunung tinggi sehingga produksi kopi yang dihasilkan kebanyakan berupa robusta.
Penanaman massal hingga kompetisi
Daryanto mengatakan, dirinya tengah berdisksusi dengan pihak kementerian terkait untuk mengatasi perbedaan jumlah kopi ini. “Memang dari pihak Kementan, mereka ada program penanaman10 juta bibit di seluruh Indonesia tetapi ini kan tergantung dari lahan dan lainnya,” ujarnya. Sementara itu, ia bersama para rekannya kini sedang menginisiasi kompetisi kopi internasional pertama di Asia, Cup of Excellence (COE) untuk mengusahakan peningkatan jumlah produksi dan ekspor kopi arabika. Menurutnya, kompetisi tingkat internasional tersebut merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan jumlah dan kualitas kopi arabika. “Kalau kualitas kita naikkan, otomatis yang komersial pasti naik dan bisa membuat ekosistem bagus,” jelasnya.
Sumber : Krisda Tiofani,Yuharrani Aisyah. Kompas.com
